Monday, October 1, 2018

Pengantar Filsafat

1. Apa Itu Filsafat?

Kata filsafat berasal dari bahasa yunani, yaitu ‘philosophia’. Istiah philoshofia berasal dari kata philien yang berarti mencintai dan shopos yang berarti bijaksana. Jadi istilah philosophia berarti mencintai akan hal-hal yang bersifat bijaksana. Dalam bahasa inggris disebut dengan istilah ‘philosohy’, dan dalam bahasa arab disebut dengan istilah ‘falsafah’, yang biasa diterjemahkan dengan ‘cinta kearifan’. Berdasarkan uraian di atas dapat dipahami bahwa filsafat berarti cinta kebijaksanaan. Sedangkan orang yang berusaha mencari kebijaksanaan atau pecinta pengetahuan disebut dengan filsuf atau filosof.

Driyarkara (2006:999-1001) menyatakan
bagaimana dari keinginan akan mengerti, akan kebenaran, timbul ilmu-ilmu pengetahuan, dan akhirnya muncullah filsafat. Filsafat itu timbul dari setiap orang, asal saja orang itu hidup sadar dan menggunakan pikirannya.

Plato (427-347 SM) menurutnya, filsafat adalah pengetahuan yang berminat mencapai kebenaran yang asli.

Aristoteles (384-332 SM). Filsafat adalah ilmupengetahuan yang meliputi kebenaran yang terkandung di dalamnya ilmu metafisika, logika, retorika, etika, ekonomi, politik dan estetika.

Al-Farabi (870-890 M) menurutnya filsafat adalah ilmu yang menyelididki hakikat yang sebenarnya dari segala yang ada (al-maujuda).

2. Kegunaan filsafat

Menurut A. Susanto dalam bukunya filsafat ilmu, ada tiga hal yang dapat diambil pelajaran dari filsafat, antaralain :

Pertama, filsafat  mengajarkan seseorang untuk lebih mengenal diri sendiri secara totalitas, sehingga dengan pemahaman tersebut dapat dicapai hakikat manusia itu sendiri dan bagaimana sikap manusia itu seharusnya.Filsafat mengajarkan seseorang agar terlatih untuk berpikir serius, berpikir secara radikal, mengkaji sesuatu sampai ke akar-akarnya.

Kedua, filsafat mengajarkan tentang hakikat alam semesta.Pada dasarnya berpikir filsafat ialah berusaha untuk menyusun suatu system pengetahuan yang rasional dalam rangka memahami segala sesuatu, termasuk dari diri manusia itu sendiri.

Ketiga, filsafat mengajarkan tentang hakikat Tuhan.Studi filsafat seyogyanya dapat membantu manusia untuk membangun keyakinan keagamaan atas dasar yang matang secara intelektual. Dengan pemahaman yang mendalam dan dengan daya nalar yang tajam, maka akan sampailah pada kekuasaan mutlak, yaitu Yuhan.

Maka dengan filsafat, nash atau ajaran-ajaran agama dapat dijadikan sebagai bukti untuk membenarkan akal. Secara sederhana tujuan filsafat adalah untuk mengumpulkan pengetahuan manusia sebanyaknya, mengajukan kritik dan menilai pengetahuan , mencari hakekatnya, dan menerbitkan dan mengatur semua itu kedalam bentuk yang sistematis. Filsafat akan membawa kita kepada suatu pemahan dan pemahaman akan membawa kita kepada tindakan yang lebih banyak.

3. Perkembangan Filsafat

Berdasarkan kurunnya waktu perkembangan ilmu filsamat ini terbagi menjadi empat, sebagai mana perkembangan kehidupan manusia, yaitu zaman Yunani kuno, zaman abad pertengahan, zaman renaissance dan modern, dan zaman kontemporer.

1. Filsafat ilmu pada zaman Yunani kuno (abad ke-7 SM)

Berdasarkan catatan sejarah bahwa zaman Yunani kuno merupakan titik awal berpindahnya paradigma pemikiran dari mitosentris ke logosentris. Pada masa ini bangsa Yunani tidak lagi mempercayai mitos-mitos dan mulai senang menyelidiki sesuatu dengan kritis. Sikap kritis ini melahirkan beberapa filosof yang berjaya dan dikenal pada zamannya dan sesudahnya seperti Thales, Anaximander, Heraclitos dan lain-lain.

Pada tahun 470 SM lahir seorang filosof dengan metode dan sistem pemikiran yang lebih berkembang berbanding pendahulunya, Socrates, yang bisa diketahui pemikirannya berdasarkan naskah-naskah salah seorang muridnya, Plato yang lazimnya disebut “dialog-dialog Plato”. Berbeda dengan gurunya, Plato berkesimpulan bahwa sumber dari segala pengetahuan adalah ide absolut. Dalam hal ini, Plato lebih menaruh perhatian pada kualitas yang abstrak. Selain Plato, adapula Aristoteles (384-322 SM) yang namanya tidak asing lagi di telinga para kademisi.

2. Filsafat ilmu pada zaman abad pertengahan  (800-1500 M)

Perkembangan filsafat ilmu pada abad pertengahan ditandai dengan kehadiran para teolog, sehingga aktivitas ilmiah terkait dengan aktivitas keagamaan. Semboyan yang berlaku bagi ilmu pada masa ini adalah ‘abadi agama’. Ajaran kristen merupakan problema kefilsafatan, karena mengajarkan bahwa wahyu tuhanlah yang merupakan kebenaran sejati, sedangkan kegitan keilmuan praktis diarahkan untuk mendukung kebenaran teologi. pada abad ini pula mulai muncul filsuf muslim seperti Al-Farabi dan Al-Kindi. Di zaman ini ditandai bahwa wahyu tuhanlah yang merupakan kebenaran sejati, sedangkan kegitan keilmuan praktis diarahkan untuk mendukung kebenaran teologi.

3. Filsafat ilmu pada zaman renaissance dan modern

Renissance berarti kebangkitan kembali, yakni kembali ke pemikiran yang bebas dari dogma-dogma agama. Renaissance merupakan zaman peralihan ketika kebudayaan abad pertengahan mulai berubah menjadi suatu kebudayaan modern. Manusia pada zaman ini adalah manusia yang merindukan pemikiran yang bebas.Adapun untuk zaman modern ditandai dengan penemuan berbagai bidang ilmu. Perkembangan ilmu pengetahuan pada zaman modern dirintis oleh Rene Descartes dan terkenal sebagai bapak filsafat modern.

4. Filsafat ilmu pada zaman kontemporer

Perkembangan filsafat ilmu pada zaman kontemporer ditandai dengan penemuan berbagai teknologi canggih. Teknologi komunikasi dan informatika termasuk salah satu yang mengalami kemajuan sangat pesat. Mulai dari penemuan komputer, berbagai satelit komunikasi, internet dan sebagainya. Akibatnya, terjadi spesialisasi ilmu yang semakin tajam. Salah satu tokoh terkenal pada zaman ini adalah Albert Einstein.





Sumber :

Louis O. Kattsoff, alih bahasa oleh Soejono, Pengantar Filsafat, (Yogyakarta, Tiara Wacana Yogya, 1992)

Sumarto, Filsafat Ilmu, (Jambi, Pustaka Ma'arif Press, 2017)

http://www.afdhalilahi.com



No comments:

Post a Comment