A. Hakekat Filsafat
Driyarkara (2006:999-1001) menyatakan bagaimana dari keinginan akan mengerti, akan kebenaran, timbul ilmu-ilmu pengetahuan, dan akhirnya muncullah filsafat. Filsafat itu timbul dari setiap orang, asal saja orang itu hidup sadar dan menggunakan pikirannya. Filsafat adalah bentuk ilmu pengetahuan tertentu, bahkan bentuk pengetahun manusia yang sempurna, yang merupakan perkembangan yang terakhir dari pengetahuan luar biasa.
Filsafat dapat dipandang dalam dua segi, filsafat sebagai ilmu pengetahuan dan filsafat dalam arti yang lebih luas, yaitu usaha mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan hidup,
menanyakan dan mempersoalkan segala sesuatu. Filsafat sebagai ilmu yang tersendiri itu tidak niscaya adanya; hal itu meminta tingkatan kebudayaan yang agak tinggi. Sebaliknya, menyangkut filsafat dalam arti yang lebih luas, dalam arti anasir-anasir filsafat dalam pikiran manusia, hal itu dapat dikatakan tentu ada, biarpun sedikit. Pada masyarakat yang tingkat kebudayaannya belum berkembang, dapat dijumpai pikiran-pikiran tentang sebab-akibat, pandangan-pandangan tentang manusia, Tuhan dan dunia, pendapat-pendapat tentang hidup tentang perbuatan-perbuatan manusia atau etika, dan lain-lain.
Filsafat adalah eksistensial sifatnya, erat hubungannya dengan hidup sehari-hari. Hidup sehari-hari memberikan bahanbahan untuk direnungkan. Filsafat berdasarkan dan berpangkalan pada manusia yang konkrit pada diri manusia yang hidup di dunia dengan segala persoalan yang dihadapi. Dengan demikian, filsafat adalah pernyataan dari sesuatu yang hidup di dalam hati setiap orang, maka walaupun tidak setiap orang dapat menjadi ahli filsafat, namun yang dibicarakan atau dipersoalkan dalam filsafat itu memang berarti bagi semua manusia.
B. Cabang-cabang Filsafat Secara Umum
1. Metafisika
Sesuai dengan pernyataan Kattsoof (2004:72-74), istilah metafisika dipergunakan di Yunani untuk menunjukkan karya-karya tertentu Aristoteles. Istilah ini berasal dai bahasa Yunani meta ta physika yang berarti hal-hal yang terdapat sesudah fisika. Metafisika dapat didefinisikan sebagai bagian pengetahuan manusia yang bersangkutan dengan pertanyaan mengenai hakikat yang ada yang terdalam. Dalam arti ini, metafisika terlihat sangat erat hubungannya dengan ilmu-ilmu alam dan saling mempengaruhi terhadap ilmu-ilmu tersebut.
2. Ontologi
Driyarkara (2006:1020) menyatakan bahwa ontologi berbicara tentang ada: metafisika atau ontology yang membahas apakah arti ada itu, apakah kesempurnaannya, apakah tujuan, apakah sebab dan akibat, apa yang merupakan dasar yang terdalam dalam setiap barang yang ada. Jadi, apakah sesungguhnya hakikat daripada segala sesuatu?
Kattsoff (2004:73-74) juga menjelaskan bahwa kata ontologi berasal dari perkataan Yunani yang berarti yang ada dan, sekali lagi, logos. Ontologi membicarakan asas-asas rasional dari yang ada. Ontologi berusaha untuk mengetahui esensi terdalam dari yang ada. Apakah kenyataan itu mengandung tujuan atau bersifat mekanis, ini merupakan pertanyaan ontologi. Sesuatu apapun haknya bersifat yang ada atau singkatnya barang sesuatu itu ada.
3. Epistemologi
Driyarkara (2006:1019) menjelaskan salah satu cabang filsafat tentang pengetahuan adalah logika yang memuat logika formal yang mempelajari asas-asas atau hukum-hukum memikir, yang harus ditaati supaya dapat berfikir dengan benar dan mencapai kebenaran serta logika material atau kritika (epistemology) yang memandang isi pengetahuan, bagaimana isi ini dapat dipertanggungjawabkan, mempelajari sumber-sumber dan asal ilmu pengetahuan, alat-alat pengetahuan, proses terjadinya pengetahuan, kemungkinan-kemungkinan dan batas pengetahuan, kebenaran dan kekeliruan, metode ilmu pengetahuan, dan lain-lain. Dalam pengantar saduran buku Epistemologi Filsafat Pengetahuan,.
4. Aksiologi
Aksiologi adalah ilmu pengetahuan yang menyelidiki hakikat nilai, yang umumnya ditinjau dari sudut kefilsafatan (Kattsoff terjemahan Sumargono, 2004:319). Definisi yang lain dijelaskan oleh Mudhofir (2001:45) aksiologi dari kata Yunani axios yang berarti bernilai, berharga dan logos berarti kajian tentang. Analisis atas nilai-nilai untuk menentukan makna, ciri, asal mula, corak, ukuran, dan kedudukan epistemologinya. Wiramiharja (2007:155) menjelaskan aksiologi mempunyai kaitan dengan axia yang berarti nilai atau berharga. Aksiologi dapat diartikan sebagai wacana filosofis yang membicarakan nilai dan penilaian. Aksiologi digunakan terutama sebagai teori umum mengenai nilai.
C. Filsafat Jawa
Kata fisafat berasal dari bahasa Yunani Philosophia yang berarti : cinta kearifan (the love of wisdom). Kata fisafat berasal dari bahasa Yunani Philosophia yang berarti : cinta kearifan (the love of wisdom). Bagi filsafat Jawa tepat sekali pengamatan Romo Zoetmulder, bahwa pengetahuan (filsafat) senantiasa merupakan sarana untuk mencapai kesempurnaan. Dapatlah dirumuskan bahwa di Jawa filsafat berarti : cinta kesempurnaan (the love of perfection) dengan memakai analogi philosophia Yunani.
Bilamana memakai bahasa Jawa sendiri, maka filsafat sendiri berarti : ngudi kesempurnaan, berusaha mencari kesempurnaan. Sebaliknya philosophia Yunani dibaca dengan bahasa Jawa berarti : ngudi kewicaksanan.
Untuk menjelaskan perbedaan antara pemikiran filsafat Barat dan filsafat Jawa, Ciptoprawiro (1986: 14-15) mempergunakan jembatan keledai yaitu abjad dan alfabet. Dalam abjad ABCD yang kini umum dipergunakan, abjad Jawa hanacaraka senantiasa menceritakan sebuah kisah, yaitu kisah Aji Saka yang menggambarkan kedua abdinya yang saling bertengkar, sama kesaktiannya, dan akhirnya menemui ajalnya. Penjelasan cerita sebagai berikut:
a. Hanacaraka : ada utusan
b. Datasawal : saling bertengkar
c. Padhajayanya : sama kesakiannya
d. Magabathanga : meninggal semua
Uraian tentang pemikiran filsafat, baik dalam ngudi kasampurnan maupun dalam ngudi kawicaksanan mempergunakan lima huruf pertama dalam abjad Jawa, yaitu hanacaraka.
a. Ha : hurip, urip = hidup. Suatu sifat zat Yang Maha Esa.
b. Na : (1) hana = ada
- Ada semesta = ontologi
- Alam semestra = kosmologi
(2) manungsa = manusia = antropologi filsafat
c. Caraka: (1) Utusan
(2) Tulisan:
- Ca: cipta = pikir = nalar—akal (thinking)
- Ra: rasa = perasaan (feeling)
- Ka: karsa = kehendak (willing)
Manusia adalah utusan Tuhan dan merupakan tulisannya dalam bentuk kodrat kemampuannya: Cipta Rasa Karsa. Hanacaraka merupakan suatu kesatuan, ada semesta, Yang Mutlak, Yang Esa, Tuhan dengan Alam Semesta dan manusia merupakan suatu kesatuan, seperti rumusan Romo Zoetmulder kesatuan kosmos dan saling berhubungan semua di dalamya. Dalam filsafat Jawa dapat dinyatakan bahwa manusia itu selalu berada dalam hubunan dengan lingkungannya, yaitu Tuhan dan Alam Semest serta menyadari kesatuannya. Maka, bagi filsafat Jawa, manusia adalah: manusia--dalam--hubungan, demikian dalam mempergunakan kodrat kemampuannya selalu diusahakan kesatuan cipta-rasa-karsa.
Berbeda dengan filsafat Barat, di mana cipta dilepaskan dari hubungan dengan lingkungannya, sehingga terjadi jarak antara manusia dengan lingkungannya. Kebudayaan Barat mengidentifikasi aku (ego) manusia dengan ciptanya (rasio, akal). Maka, dapatlah dikatakan bahwa filsafat Barat menggambarkan manusia sebagai: manusia—lepas—hubungan. Bilamana Socrates menyebut manusia sebagai animal rationale, filsafat Timur umumnya beranggapan bahwa di dalam diri mauia terdapat sifat-sifat illahi.
D. Dasar-dasar Filsafat Jawa
1. Metafisika dalam Filsafat Jawa
Ciptoprawiro (1986: 22-24) menjelaskan metafisika Jawa sebagai berikut:
Ungkapan tentang ada (Ada semesta, Alam semesta) --- Tuhan --- Manusia---, dapat dianggap sebagai hasil pemikiran ataupun sebagai hasil pengalaman atau penghayatan manusia. Karena hasil ini dinyatakan berupa penuturan dengan kata (verbal) dan tersusun secara sistematis, maka dapat disebur filsafat dalam arti sempit. Ciri-ciri dasarnya adalah (1) Tuhan adalah ada semesta atau ada mutlak, (2) Alam semesta merupakan pangejawantahan Tuhan, dan (3) Alam semesta dan manusia merupakan suatu kesatuan, yang biasanya disebut kesatuan makrokosmos dan mikrokosmos.
Kata fisafat berasal dari bahasa Yunani Philosophia yang berarti : cinta kearifan (the love of wisdom). Kata fisafat berasal dari bahasa Yunani Philosophia yang berarti : cinta kearifan (the love of wisdom). Bagi filsafat Jawa tepat sekali pengamatan Romo Zoetmulder, bahwa pengetahuan (filsafat) senantiasa merupakan sarana untuk mencapai kesempurnaan. Dapatlah dirumuskan bahwa di Jawa filsafat berarti : cinta kesempurnaan (the love of perfection) dengan memakai analogi philosophia Yunani.
Bilamana memakai bahasa Jawa sendiri, maka filsafat sendiri berarti : ngudi kesempurnaan, berusaha mencari kesempurnaan. Sebaliknya philosophia Yunani dibaca dengan bahasa Jawa berarti : ngudi kewicaksanan.
Untuk menjelaskan perbedaan antara pemikiran filsafat Barat dan filsafat Jawa, Ciptoprawiro (1986: 14-15) mempergunakan jembatan keledai yaitu abjad dan alfabet. Dalam abjad ABCD yang kini umum dipergunakan, abjad Jawa hanacaraka senantiasa menceritakan sebuah kisah, yaitu kisah Aji Saka yang menggambarkan kedua abdinya yang saling bertengkar, sama kesaktiannya, dan akhirnya menemui ajalnya. Penjelasan cerita sebagai berikut:
a. Hanacaraka : ada utusan
b. Datasawal : saling bertengkar
c. Padhajayanya : sama kesakiannya
d. Magabathanga : meninggal semua
Uraian tentang pemikiran filsafat, baik dalam ngudi kasampurnan maupun dalam ngudi kawicaksanan mempergunakan lima huruf pertama dalam abjad Jawa, yaitu hanacaraka.
a. Ha : hurip, urip = hidup. Suatu sifat zat Yang Maha Esa.
b. Na : (1) hana = ada
- Ada semesta = ontologi
- Alam semestra = kosmologi
(2) manungsa = manusia = antropologi filsafat
c. Caraka: (1) Utusan
(2) Tulisan:
- Ca: cipta = pikir = nalar—akal (thinking)
- Ra: rasa = perasaan (feeling)
- Ka: karsa = kehendak (willing)
Manusia adalah utusan Tuhan dan merupakan tulisannya dalam bentuk kodrat kemampuannya: Cipta Rasa Karsa. Hanacaraka merupakan suatu kesatuan, ada semesta, Yang Mutlak, Yang Esa, Tuhan dengan Alam Semesta dan manusia merupakan suatu kesatuan, seperti rumusan Romo Zoetmulder kesatuan kosmos dan saling berhubungan semua di dalamya. Dalam filsafat Jawa dapat dinyatakan bahwa manusia itu selalu berada dalam hubunan dengan lingkungannya, yaitu Tuhan dan Alam Semest serta menyadari kesatuannya. Maka, bagi filsafat Jawa, manusia adalah: manusia--dalam--hubungan, demikian dalam mempergunakan kodrat kemampuannya selalu diusahakan kesatuan cipta-rasa-karsa.
Berbeda dengan filsafat Barat, di mana cipta dilepaskan dari hubungan dengan lingkungannya, sehingga terjadi jarak antara manusia dengan lingkungannya. Kebudayaan Barat mengidentifikasi aku (ego) manusia dengan ciptanya (rasio, akal). Maka, dapatlah dikatakan bahwa filsafat Barat menggambarkan manusia sebagai: manusia—lepas—hubungan. Bilamana Socrates menyebut manusia sebagai animal rationale, filsafat Timur umumnya beranggapan bahwa di dalam diri mauia terdapat sifat-sifat illahi.
D. Dasar-dasar Filsafat Jawa
1. Metafisika dalam Filsafat Jawa
Ciptoprawiro (1986: 22-24) menjelaskan metafisika Jawa sebagai berikut:
Ungkapan tentang ada (Ada semesta, Alam semesta) --- Tuhan --- Manusia---, dapat dianggap sebagai hasil pemikiran ataupun sebagai hasil pengalaman atau penghayatan manusia. Karena hasil ini dinyatakan berupa penuturan dengan kata (verbal) dan tersusun secara sistematis, maka dapat disebur filsafat dalam arti sempit. Ciri-ciri dasarnya adalah (1) Tuhan adalah ada semesta atau ada mutlak, (2) Alam semesta merupakan pangejawantahan Tuhan, dan (3) Alam semesta dan manusia merupakan suatu kesatuan, yang biasanya disebut kesatuan makrokosmos dan mikrokosmos.
2. Ontolologi Filsafat Jawa
Sebagaimana dijelaskan di depan bahwa ontologi merupakan bagian dari filsafat yang paling umum. Ontologi merupakan metafisika umum, yang mempersoalkan adanya segala
sesuatu yang ada.
Ontologi dalam filsafat Jawa, misalnya dapat dilihat dalam Serat Centhini yang berangkat dari kenyataan yang sungguh-sungguh ada. Hal itu dapat dilihat dari awal tujuan penulisan Serat Centhini. Dalam Serat Centhini jilid satu, disebutkan putera mahkota kerajaan Surakarta Kanjeng Pangeran Adipati Anom Amengkunegara III memberi perintah kepada juru tulis Sutrasna, untuk memaparkan segala pengetahuan Jawa yang dapat digunakan sebagai induk (babon) semua pengetahuan Jawa (pangawikan Jawi) dalam gubahan cerita yang dituangkan dalam bentuk tembang.
3. Epistemologi dalam Filafat Jawa
Dasar epistemologis Filsafat Jawa dapat dilihat dalam Serat Centhini yang isinya terdiri dari berbagai pengetahuan Jawa, sebagaimana diungkapkan dalam pendahuluan jilid-1 bahwa Serat Centhini merupakan baboning sanggyaning pangawikan Jawi (induk semua pengetahuanJawa). Macam pengetahuan Jawa dalam Serat Centhini sebagaimana dinyatakan oleh Darusuprapto (1991:3) dalam saduran Serat Centhini jilid satu, antara lain mengenai hal ikwal yang bertalian dengan agama, mengenai beraneka ilmu: kebatinan, kekebalan, perkerisan, perumahan, dan pertanian; berbagai kesenian: kesusasteraan, karawitan, dan tari; bermacam primbon: perhitungan baik buruk hari atau waktu berjampi-jampi; berbagai jenis masakan makanan; adat istiadat dan cerita yang bertalian dengan peninggalan bangunan kuna setempat, dan sebagainya. Ki Sumidi (dalam Kamajaya, 1996:11-12) menyebutkan ada 28 golongan pengetahuan Jawa, yaitu: sejarah, ramalan, etika, kepurbakalaan, kesosialan, bahasa dan sastra, agama Islam, agama budha, agama kadewan, filsafat, keajaiban, kejiwaan, ilmu senjata-wesi aji, ilmu kuda, ilmu mengendarai kuda, asmara, kesenian, ilmu bangunan rumah, obat-obatan dan penyakit, ilmu bumi, hewan, tumbuh-tumbuhan, pertanian, primbon, kesenangan dan pertunjukan, tata cara, pendidikan, tipe manusia, magi hitam, dan campuran.
4. Aksiologi dalam Filsafat Jawa
Penjelasan di depan disebutkan bahwa aksiologi adalah ilmu pengetahuan yang menyelidiki hakikat nilai, yang umumnya ditinjau dari sudut kefilsafatan. Dasar-dasar aksiologi dalam Fulsafat Jawa dapat dilihat dalam Serat Centhini yang bermuatan nilai yang tinggi sebagaimana digambarkan oleh Kamajaya (1996: 1-2), yang menyatakan bahwa Serat Centhini berisi segala sesuatu meliputi kehidupan orang Jawa lahir dan batin, filsafat, kebatinan, agama, hingga Ketuhanan yang rumit, mencakup tradisi, kekayaan alam, adat kebiasaan, kepercayaan, kesenian.
No comments:
Post a Comment