Wednesday, November 15, 2017

Merubah Kemungkaran

Sunan Drajat Abu Syamiel:
Renungan.

( - ) : "Tak usahlah sibuk dengan aib orang lain... biarkan saja mereka mau berbuat apa. Besok di yaumil hisab, kita akan ditanya Allah tentang diri kita bukan tentang orang lain, orang pintar adalah orang yg selalu memperbaiki dirinya !"..

( + ) : "Iya, kita memang hanya akan ditanya Allah tentang amal kita bukan amal orang lain. Dan diantara bentuk pertanyaan Allah kepada kita adalah kenapa ketika kita melihat saudara kita berbuat salah/dosa kita malah mendiamkannya dan tidak menasehatinya (?) Kalau ada teman kita yg berbuat keliru tapi kita diamkan tidak kita luruskan maka apakah itu sudah bener (?) Sementara Nabi shallallaahu alaihi wa salam telah bersabda


إن الله تعالى ليسأل العبد يوم القيامة ، حتى يسأله ما منعك إذا رأيت المنكر أن تنكره ؟ فإذا لقن الله العبد حجته قال : يا رب رجوتك و فرقت من الناس

Sesungguhnya Allah benar-benar akan bertanya kepada seorang hamba pada hari kiamat, sehingga Dia berfirman, “Apakah yang menghalangimu dari mengingkari sebuah kemungkaran ketika kamu melihatnya?”. Maka apabila Allah telah mengajarkan hujjah kepada hamba tersebut, ia akan menjawab, “Wahai Rabbku, aku mengharapkan Mu tetapi aku sangat takut kepada manusia”.(Silsilah as shahihah 929)

من رأى منكم منكرا فليغيره بيده ، فإن لم يستطع فبلسانه ، فإن لم يستطع فبقلبه وذلك أضعف الإيمان

Barang siapa di antara kalian yang melihat kemungkaran, hendaklah dia merubahnya dengan tangannya. Apabila tidak mampu maka hendaknya dengan lisannya. Dan apabila tidak mampu lagi maka dengan hatinya, sesungguhnya itulah selemah-lemah iman.”(HR. Muslim)Lihat, kata Nabi shallallaahu laihi wa salam orang yang diam dari kemungkaran, tidak meluruskan saudara-saudaranya yg berbuat keliru, akan dicela oleh Allah pd hari kiamat kecuali orang yg diam krn takut pd manusia, dan itu pun adalah selemah-lemahnya iman.Oleh karena itulah, sahabat Abu Hurairah radhiyallaahu anhu berkata:

اْلمـُؤْمِنُ مِرْآةُ أَخِيْهِ إِذَا رَأَى فِيْهِ عَيْبًا أَصْلَحَهُ

seorang Mukmin itu ibarat cermin bagi saudaranya,kalau ia melihat ada suatu aib pada (saudara)nya maka ia akan memperbaikinya”.(Atsar shahih dikeluarkan oleh Imam al Bukhari dalam Adabul Mufrad: 238)
-------------------

No comments:

Post a Comment