Tuesday, October 2, 2018

Ciri-ciri Berfikir Filsafat dan Pengimplementasiannya

17205241040

      Berpikir merupakan sisi yang membedakan manusia dari yang lainnya. Salah satu bentuk pemikiran adalah filsafat. Tetapi tidak idak semua kegiatan berfikir itu termsuk berfilsafat. Berfikir filsafah memiliki ciri-ciri sebagai berikut :

a. Radikal
       Kata radikal kini telah memiliki penyelewengan dari segi makna yang sesungguhya. Seolah-oleah kata radikal ini menunjukan kepada sebuah kelompok agama yang ekstrim atau sering dikenal sebagai kelompok yang menjadi cikal bakal teroris. Perlu diketahui bahwasanya makna "radikal" yang sesungguhnya berasal dari kata Yunani yaitu radix yang berarti "akar". Berfikir secara radikal berarti berfikir sampai ke akar-akarnya atau sampai pada hakikatnya atau esensi yang difikirkan. Semisal bicara kontek keyakinan atau kepercayaan agama. maka kita diharuskan untuk menanamkan pemikiran mengakr ini. Ketika kita mengambil sumber dari akar-akarnya, tentu kita merujuk ke kitab agama tersebut. Contoh lain yaitu ketika kita mendapatkan mata pelajaran di kelas misalnya, maka cara mengimplementasikan pemikran radikal ini salah satunya dengan cara mempelajari mata pelajaran tersebut hingga sampai pada akar-akarnya.

b. Kritis
      Menurut John Chaffe,
berpikir kritis didefinisikan sebagai berpikir untuk menyelidiki secara sistematis proses berpikir itu sendiri. Maksudnya tidak hanya memikirkan dengan sengaja, tetapi juga meneliti bagaimana kita dan orang lain menggunakan bukti dan logika. Biasanya orang yang berpemikiran kritis ini akan menjadi orang yang tanggap terhadap persoalan. Semisal persoalan yang belum lama ini heboh, yakni ketika terjadi pelemahan Rupiah terhadap Dolar, orang itu akan tanggap terhadap persolan tersebut, sehingga orang itu berusaha menyapaikan sikap kritisnya tersebut kepada pemerintah, entah itu dengan cara membuat tulisan yang berisi kritikan atau mungkin orang itu menyuarakannya dengan cara ikut aksi turun ke jalan.
      Ada pula sikap kritis ketika terjadi didalam kelas tatkala sedang melaksanakan pembelajaran. terutama yang sering saya alami yaitu saat presentasi pada saat sesi didkusi atau tanya jawap. terkadang audien mencoba mempertakan hal-hal yang menurutnya kurang pas dala materi presentasi yang disampaikan oleh presenter. Sehingga terjadilah adu argumen disitu.

c. Rasional
       Berkaitan dengan pemikiran sejauh yang dapat dijangkau oleh akal manusia.Sering juga disebut dengan pemikiran yang logis atau masuk akal. Orang yang mengimplementasikan pemikiran raisonal ini bisanya cenderung memenirima atau membenarkan sesuatu persoalan itu jika persoalan tersebut logis atau masuk akal. Semisal berkaitan dengan ilmu pasti.Taruhlah itu ilmu Matematika yang jelas sudah pasti 1+1=2. Ketika dicerna dengan akal, itu logis. 

d. Refleksi
       Definisi pemikiran ini ialah suatu proses pemikiran terhadap kepercayaan dan sikap yang sangat kita junjung tinggi. (Titus, Smith, Nolan, 1984 11). Biasanya pemikiran refleksi ini mencerminkan pemgalaman pribadi. Seperti orang yang misal memiliki pengalaman lebih lama menjalani hidup di dunia ini atau memiliki referensi bacaan buku yang banyak, tentu hal tersebut akan mempengaruhi orang tersebut dalam menyikapi sebuah persoalan.

e.Konseptual
     Konsep gagasan hasil genereliasi atau gambaran umum yang mrupan hasil abstraksi dan dan prengalaaman hal-hal serta proses yang individual. Konsep dan gagasan tersebut akan menghasilkan sebuah konstruksi dari pemikiran. sebagai contoh ketika kkita dimita oleh dosen untuk membuat makalah, tentu membutuhkan beberapa referensi. Dan referensi ini pastilah hasil dari pemikiran-pemikiran yang berbeda. Dari beberapa refenrensi tersebut kita akan menggabungkannya atau menyusunnya menjadi sebuah makalah. Hal itu menghasilkan suatu wujud konstruksi baru.

f. Koheren
       Perenungan kefilsafatan berusaha untuk menyusun  suatu bagan yang koheren. Secara ringkasnya yang dimaksud dengan istilah "koheren" ialah runtut. Contoh implementasi pemikiran ini di dalam kehidupan seperti terjadi langit mendung maka nanti hujan akan turun. Contoh lain semisal ketika mengatuk maka pasti akan tidur.

g. Sistematik
       Sistematik berasal dari kat "system" yaitu merupakan kebulatan dan sejumlah unsur yang saling meliki fungsi masing-masing untuk membentuk keseluruhan. Setiap uraian dalam kefilsafatan haruslah saling berhubungan secara teratur, serta setiap uraian harus merupakan kesatuan yang padu. Semisal ketika kita diberi tugas oleh dosen untuk mengarang cerita. Secara tidak langsung disitu kita belajar untuk menyusu kata per kata menjadi sebuat kalimat.kalimat perkalimat menjadi sebuah paragraf. Dan paragraf paragraf itu akan menjadi sebuah cerita.

h. Metodis
    Metodis adalah metode-metode yang digunakan untuk mencari kebenaran dalam upayanya mengurangi kemungkinan penyimpangan. Seperti halnya ketika melakukan "research" atau penelitian yang tentunya menggunakan metode-metode pemikiran untuk mengkaji objek atau kasus yang akan diteliti.

i. Komprehensif
   Berfikir komprehensif atau berfikir secara menyeluruh. Berfikir kefilsafatan harus mempertimbangkan berbagai segi, artinya tidak hanya melihat dar objek dan sudut pandang tertentu. Filsafat berusaha untuk memperoleh pandangan tentang hal-hal atau peristiwa secara menyeluruh. Sebagai contoh ketika kita dihadapkan dengan suatu masalah. Untuk menyimpulkan atau menilai masalah tersebut kita tidak boleh memandangnya hanya dari salah satu sudut pandang saja, melainkan harus melihat dari berbagi sudut pandang lainnya juga.

j. Bebas dan tanggung jawab
      Berfilsafat harus merupakan pemikiran bebas. Kebebasan berfikir itu berarti dalam berfilsafat harus berusaha memikirkan segala sesuatu tanpa didasari oleh kecenderungan emosi, prasang-prasangka, atau yang lainnya agar tidak berat sebelah. Berfikir bebas bukan berarti berfikir sembarangan, sesuka hati atau seenaknya sendiri, tetapi sebaliknya berfikir dengan menggunakan disiplin ilmu yang ketat dalam mematuhi prinsip-prinsip pemikiran.
     Pemikiran kefilsafatan dengan dislipin ilmu yang ketat untuk mematuhi prinsip pemikiran, haruslah berani bertanggung jawab terhadap apa yang telah ia pikirkan dan ia utarakan. Bertanggung jawab dengan orang lain terutama terhadap diri pribadi dan hati nurani.




Sumber :
Kattsoff, Louis O. 1992. Pengantar Filsafat. Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya
Sudaryanto. 2013. Azas-azas Filsafat. UGM

No comments:

Post a Comment