Tuesday, October 23, 2018

Makalah Logika Filsafat

FILSAFAT JAWA
LOGIKA FILSAFAT

Dosen Pembimbing :
Prof.Dr.Sutrisna Wibawa ,M.Pd.
Di Susun Oleh :
Mar’atus Shaleha Nur Candra Dewi M. 17205241032
Patuh Trapsila Ningrum 17205241047
Rahmat Eko Hidayat
Tiara Ayu Mumpuni P.


PENDIDIKAN BAHASA DAERAH
FAKULTAS BAHASA DAN SENI
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
TAHUN AJARAN 2017/2018


BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Dalam kehidupan di masyarakat ataupun di kampus, seringkali kita mendengar istilah “itu tidak logis” , “ logikanya seperti apa” . Yang dimaksud logis disini adalah dapat diterima dengan akal sehat. Dalam kaitanya dengan kehidupan, tentu kita sebagai manusia yang berakal hendaknya senantiasa melakukan sesuatu yang dapat diterima akal sehat atau logis.  Banyak permasalah dihadapan kita yang dapat kita cari solusinya dengan cara menggunakan logika. Meskipun  tidak semua masalah dapat kita selesaikan dengan menggunakan logika. Logika merupakan bagian ilmu filsafat yang menuntut kita agar bisa berpikir sesuai dengan akal dan bisa di terima oleh orang lain.  Logika tidak mempelajari cara berpikir dari semua ragamnya, tetapi pemikiran dalam bentuk yang paling sehat dan praktis. Logika menyelidiki, menyaring dan menilai pemikiran dengan cara serius dan terpelajar serta bertujuan mendapatkan kebenaran, terlepas dari segala kepentingan dan keinginan perorangan. Logika merumuskan serta menerapkan hukum-hukum dan patokan-patokan yang harus ditaati agar manusia dapat berpikir benar, efisien dan teratur.Secara tidak langsung hal ini juga bisa menjadi pedoman kita agar bisa berpikir secara logis dan mendasar .
Rumusan Masalah
Apa itu logika ?
Bagaimana sejarah Logika ?
Apa Manfaat dari logika ?
Bagaimana pembagian logika dalam filsafat ?
 Bagaimana implementasi logika didalam khidupan sehari-hari ?

Tujuan
Mengetahui apa itu logika
Mengetahui bagaimana sejarah logika
Mengetahui manfaat dari logika
Mengetahui pembagian logika dalam filsafat
Mengetahui bagaimana implementasi logika dalam kehidupan sehari-hari

BAB II
PEMBAHASAN
KAJIAN TEORI
Pengertian filsafat
Driyarkara (2006:973-998) menguraikan secara panjang lebar tentang filsafat. Kata filsafat dijabarkan dari perkataan philosophia.   Perkataan itu berasal dari bahasa Yunani yang berarti ―cinta akan kebijaksanaan (love of wisdom). Menurut tradisi, Pythagoras atau Sokrateslah yang pertama-tama menyebut diri Philosophus, pecinta kebijaksanaan, artinya orang yang ingin mempunyai  pengetahuan yang luhur (Sophia); mengingat keluhuran pengetahuan yang dikejarnya itu, maka orang  tidak mau berkata bahwa telah mempunyai, memiliki, dan menguasainya.
Filsafat adalah bentuk ilmu pengetahuan tertentu, bahkan bentuk pengetahun manusia yang sempurna, yang merupakan perkembangan yang terakhir dari pengetahuan yang luar biasa.
Filsafat dapat dipandang dalam dua segi, filsafat sebagai ilmu pengetahuan dan filsafat dalam arti yang lebih luas. Filsafat sebagai ilmu yang tersendiri itu tidak niscaya adanya; sebaliknya, filsafat dalam arti yang lebih luas, dalam arti anasir-anasir filsafat dalam pikiran manusia. Pada masyarakat yang tingkat kebudayaannya belum berkembang, dapat dijumpai pikiran-pikiran tentang sebab-akibat, pandangan-pandangan tentang manusia, Tuhan dan dunia, pendapat-pendapat tentang hidup, tentang perbuatan-perbuatan manusia atau etika, dan lain-lain.
Filsafat adalah eksistensial sifatnya, erat hubungannya dengan hidup sehari-hari. Hidup sehari-hari memberikan bahan-bahan untuk direnungkan.
Filsafat berdasarkan dan berpangkalan pada manusia yang konkrit pada diri manusia yang hidup di dunia dengan segala persoalan yang dihadapi.
Tujuan Filsafat
Kattsoff (2004:3-4) menyatakan secara sederhana tujuan filsafat adalah mengumpulkan pengetahuan manusia sebanyak mungkin, dan menerbitkan serta mengatur semua itu di dalam bentuk yang sistematis. Filsafat membawa kita kepada pemahaman, dan pemahaman membawa kita kepada tindakan yang lebih layak. Filsafat merupakan pemikiran yang sistematis. Kegiatan kefilsafatan ialah merenung, tetapi merenung bukanlah melamun, juga bukan berfikir secara kebetulan yang bersifat untung-untungan. Perenungan kefilsafatanadalah  percobaan untuk menyusun suatu sistem pengetahuan yang rasional yang memadai untuk memahami dunia tempat kita hidup, maupun untuk memahami diri kita sendiri. Perenungan kefilsafatan dapat merupakan karya satu orang yang dikerjakannya sendiri, ketika ia dengan pikirannya berusaha keras menemukan  alasan dan penjelasan  dengan cara semacam bertanya kepada diri sendiri. Atau, perenungan itu dapat pula dilakukan oleh dua atau lebih  dari dalam suatu percakapan ketika mereka melakukan analisis, melakukan kritik dan menghubungkan pikiran mereka secara timbal balik. Perenungan kefilsafatan dapat pula semacam percakapan yang dilakukan dengan diri sendiri atau dengan orang lain. Hal itu  dapat ditunjukkan oleh aktivitas seorang filsuf  yang berhubungan dengan polemik yang terkadang mempertentangkan dan membandingkan di antara alternatif-alternatif yang masing-masing berpegangan dari unsur atau segi yang penting,  dan kemudian mencoba untuk mengujinya pada pengalaman, kenyataan empirik, dan akal.  Ada yang berpendirian bahwa pengetahuan diperoleh hanya melalui pengalaman, dan ada yang berpendirian bahwa pengetahuan didapat hanya melalui akal.  Kedua pendiriana itu diuraian secara panjang lebar sampai tercapai suatu sintesis (Kattsoff, 2004:6-7).

Golongan Filsafat
Kattsoff (2004: 81) menggolongkan lapangan filsafat menjadi:
1. Logika,
2. Metodologi,
3. Metafisika,
4. Ontologi,
5. Kosmologi,
6. Epistemologi,
7. Biologi kefilsafatan,
8. Psikhologi kefilsafatan,
9. Antropologi kefilsafatan,
10. Sosiaologi kefilsafatan,
11. Etika,
12. Estetika,
13. Filsafat agama.
Ali Maksum (2008:36-37) pada umumnya filsafat dibagi ke dalam enam bidang atau
cabang, yaitu:
1. Epistemology, adalah filsafat tentang ilmu pengetahuan yang mempersoalkan sumber, asal mula, dan jangkauan serta validitas dan realiabilitas dari berbagai klaim terhadap ilmu pengetahuan.
2. Metafisika, adalah filsafat tentang hakikat yang ada di balik fisika, tentang hakikat yang bersifat transenden, di luar jangkauan pengalaman dan pancaindra manusia. Metafisika terdiri dari ontology, kosmologi, teologi metafisik, dan antropologi.
3. Logika, adalah studi tentang metode berfikir dan metode penelitian ideal yang terdiri dari observasi, introspeksi, deduksi dan induksi, hipotesis dan eksperimen, analisis dan sintesis.
4. Etika, adalah studi tentang tingkah laku yang ideal, termasuk di dalamnya aksiologi.
5. Estetika, adalah studi tentang bentuk ideal dan keindahan. Estetika sering disebut filsafat seni.
6. Filsafat-filsafat khusus atau filsafat tentang berbagai disiplin seperti filsafat hukum, filsafat sejarah, filsafat alam, filsafat agama, filsafat manusia, filsafat
pendidikan, dan sebagainya.





LOGIKA
Arti dan Sejarah logika
Definisi (terminologi) Logika Menurut Poerwadarminta dkk (1959) berasal dari kata logos yang berarti perkataan atau sabda. Logika juga berarti hasil pertimbangan akal pikiran yang diutarakan lewat kata dan dinyatakan melalui bahasa. Istilah lainnya (alMunawir, 1984): Mantiq berasal dari kata nataqa yang berarti berkata/berucap. Istilah sehari-hari: logis; masuk akal. Arti dan Sejarah Logika (lanjutan) .Kneller (1966) mantiq disebut sebagai penyelidikan tentang dasar-dasar dan metode-metode berpikir benar.  Menurut Thaib Thahir A. Muin (1966) ilmu untuk menggerakkan pikiran kepada jalan yang lurus untuk memperoleh suatu kebenaran. Menurut Irving M. Copi mengatakan logika adalah ilmu yang mempelajari metode dan hukum-hukum yang digunakan untuk membedakan penalaran yang betul dari penalaran yang salah. Logika adalah cabang filsafat praktis (bisa dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari).

Logika dimulai sejak Thales (624 SM - 548 SM), filsuf Yunani pertama yang meninggalkan segala dongeng, takhayul, dan cerita-cerita isapan jempol dan berpaling kepada akal budi untuk memecahkan rahasia alam semesta. Thales mengatakan bahwa air adalah arkhe (Yunani) yang berarti prinsip atau asas utama alam semesta. Saat itu Thales telah mengenalkan logika induktif. Aristoteles kemudian mengenalkan logika sebagai ilmu, yang kemudian disebut logica scientica. Aristoteles mengatakan bahwa Thales menarik kesimpulan bahwa air adalah arkhe alam semesta dengan alasan bahwa air adalah jiwa segala sesuatu. Dalam logika Thales, air adalah arkhe alam semesta, yang menurut Aristoteles disimpulkan dari:
- Air adalah jiwa tumbuh-tumbuhan (karena tanpa air tumbuhan mati)
 - Air adalah jiwa hewan dan jiwa manusia
 - Air jugalah uap
 - Air jugalah es
-Jadi, air adalah jiwa dari segala sesuatu, yang berarti, air adalah arkhe alam semesta. Sejak saat Thales sang filsuf mengenalkan pernyataannya, logika telah mulai dikembangkan. Kaum Sofis beserta Plato (427 SM-347 SM) juga telah merintis dan memberikan saran-saran dalam bidang ini. Sejarah Logika (lanjutan) .Pada masa Aristoteles logika masih disebut dengan analitica , yang secara khusus meneliti berbagai argumentasi yang berangkat dari proposisi yang benar, dan dialektika yang secara khusus meneliti argumentasi yang berangkat dari proposisi yang masih diragukan kebenarannya. Inti dari logika Aristoteles adalah silogisme.  Buku Aristoteles to Organon (alat) berjumlah enam, yaitu:
 1. Categoriae menguraikan pengertian-pengertian
2. De interpretatione tentang keputusan-keputusan
 3. Analytica Posteriora tentang pembuktian.
 4. Analytica Priora tentang Silogisme.
 5. Topica tentang argumentasi dan metode berdebat
. 6. De sohisticis elenchis tentang kesesatan dan kekeliruan berpikir.
Pada 370 SM - 288 SM Theophrastus, murid Aristoteles yang melanjutkan pengembangan logika. Istilah logika untuk pertama kalinya dikenalkan oleh Zeno dari Citium 334 SM - 226 SM pelopor Kaum Stoa. Sistematisasi logika terjadi pada masa Galenus (130 M - 201 M) dan Sextus Empiricus 200 M, dua orang dokter medis yang mengembangkan logika dengan menerapkan metode geometri. Inilah dasar referensi Logika Tradisional.
Sejarah Logika Dalam Islam
Pada abad II Hijriyah terjadi penerjemahan karya-karya ilmuwan Yunani ke dunia Arab. Logika termasuk kajian yang menarik kaum Muslim. Imam Nawawi menghukumi haram mempelajari logika secara mendalam. Imam Ibnu Taimiyah menghukumi haram mempelajari logika. Imam al-Ghazali menganjurkan dan menganggap baik mempelajari logika.  Jumhur ulama membolehkan bagi orang-orang yang kuat akalnya dan kokoh keimanannya. Terma dan atau redaksi afalaa ya’qilun, afalaa tatafakkarun, di antaranya Surah Al-Baqarah: 44, 76, Ali Imran: 65, Al-An’am: 32, Al-A’raf: 169, Hud: 51, Yusuf: 109, Al-Anbiya’: 67, AlMukminun: 80, Al-Qashash: 60, Shaffat: 138. Hal itu bermakna Quran menganjurkan kita untuk terus menggunakan potensi pikiran dan menjadikkannya sebagai instrumen penjelas (dalil aqli) terhadap ayat Quran (dalil naqli). Ayat Qouliyah (al Quran) Ayat Kauniyah (alam semesta)
Pembagian Logika
Logika dilihat dari segi kualitasnya, dapat dibagi atas:
 1. Logika Naturalis (Mantiq alFitri), yaitu kecakapan berlogika berdasarkan kemampuan akal bawaan manusia. Contohnya, ahli pidato atau seorang politikus merupakan figur yang mampu mengutarakan jalan pikirannya dengan logis meskipun belum membaca buku Logika. Untuk mengatasi kelemahan Logika Naturalis, dibutuhkan Logika Artifisialis.  
2. Logika Artifisialis/Logika Ilmiah (Mantiq asSuri), memperhalus, mempertajam, dan menunjukkan jalan pemikiran yang benar agar akal dapat bekerja lebih teliti, efisien, mudah dan aman.
. Logika dilihat dari objeknya dapat dibagi atas:
 1. Logika Formal (Manthiq As-Shuari)   Pemikiran yang benar dapat dibedakan menjadi dua bentuk yang berbeda secara radikal, yakni cara berpikir dari umum ke khusus dan cara berfikir dari khusus ke umum. Cara pertama disebut berpikir deduktif dipergunakan dalam logika formal yang mempelajari dasar-dasar persesuaian (tidak adanya pertentangan) dalam pemikiran dengan mempergunakan hukum-hukum, rumus-rumus, patokan-patokan berpikir benar.
2. Logika Material (al-Manthiq al-maddi).  Cara bepfikir induktif dipergunakan dalam logika material, yakni menilai hasil pekerjaan logika formal dan menguji benar tidaknya dengan kenyataan empiris. Logika formal disebut juga logika minor. Logika material disebut logika mayor.
Menurut Kattsoff (2004: 70-80)
a.Logika deduktif. Logika deduktif berusaha menemukan aturan-aturan yang 19    dapat  digunakan untuk menarik kesimpulan-kesimpulan yang bersifat  keharusan dari suatu premis tertentu atau lebih. Sebagai contoh, a termasuk b, dan b termasuk dalam c, maka kita mengetahui bahwa a termasuk dalam c. Kesimpulan bahwa a termasuk dalam c karena keharusan tanpa memperhatikan  apakah yang diwakili oleh a, b, dan c. Logika yang membicarakan   susunan proporsi-proporsi  dan penyimpulan yang sifat keharusannya berdasarkan  atas susunannya, dikenal sebagai logika deduktif atau logika formal.
b. Logika induktif mencoba untuk menarik  kesimpulan tidak dari susunan proporsi-proporsi, melainkan dari sifat-sifat seperangkat bahan yang diamati. Logika induktif mencoba untuk bergerak dari satu perangkat fakta yang diamati secara khusus menuju kepada pernyataan  yang bersifat umum mengenai semua fakta yang bercorak demikian atau dari suatu perangkat akibat  tertentu menuju kepada sebab atau sebab-sebab dari akibat-akibat tersebut.

Manfaat dan fungsi  Berpikir Logika
Manfaat yang paling asasi mempelajari ilmu logika adalah untuk membuat seseorang mampu membedakan antara berpikir yang benar dan oleh karenanya akan menghasilkan kesimpulan yang benar dan terhindar dari kesimpulan yang salah.
Logika membantu manusia berpikir lurus, efisien, tepat, dan teratur untuk mendapatkan kebenaran dan menghindari kekeliruan. Dalam segala aktivitas berpikir dan bertindak, manusia mendasarkan diri atas prinsip ini. Logika menyampaikan kepada berpikir benar, lepas dari berbagai prasangka emosi dan keyakinan seseoranng, karena itu ia mendidik manusia bersikap obyektif, tegas, dan berani, suatu sikap yang dibutuhkan dalam segala suasana dan tempat. Selain hubungannya erat dengan filsafat dan matematik, logika dewasa ini juga telah mengembangkan berbagai metode logis (logical methods) yang banyak sekali pemakaiannya dalam ilmu-ilmu, sebagai misal metode yang umumnya pertama dipakai oleh suatu ilmu.
     Selain itu logika modern (terutama logika perlambang) dengan berbagai pengertian yang cermat, lambang yang abstrak dan aturan-aturan yang diformalkan untuk keperluan penalaran yang betul tidak saja dapat menangani perbincangan-perbincangan yang rumit dalam suatu bidang ilmu, melainkan ternyata juga mempunyai penerapan. Misalnya dalam penyusunan program komputer dan pengaturan arus listrik, yang tidak bersangkutan dengan argumen.
Pengertian ilmu logika secara umum adalah ilmu yang mempelajari aturan-aturan berpikir benar. Jadi dalam logika kita mempelajari bagaimana sistematika atau aturan-aturan berpikir benar. Subjek inti ilmu logika adalah definisi dan argumentasi. Yang selanjutnya dikembangkan dalam bentuk silogisme.
     Dari uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa kegunaan logika adalah sebagai berikut:
   Membantu setiap orang mempelajari logika untuk berpikir secara rasional, kritis, lurus, tetap,                  
  tertib, metodis, dan koheren atau untuk menjaga kita supaya selalu berpikir benar.
  Meningkatkan kemampuan berpikir secara abstrak, cermat, dan objektif.
   Menambah kecerdasan dan meningkatkan kemampuan berpikir secara tajam dan mandiri.
   Memaksa dan mendorong orang untuk berpikir sendiri dengan menggunakan asas-asas sistematis.                                            
  Meningkatkan cinta akan kebenaran dan menghindari kesalahan-kesalahan berpikir kekeliruan serta kesesatan.
  Mampu melakukan analisis terhadap suatu kejadian.
  Sebagai ilmu alat dalam mempelajari ilmu apapun, termasuk filsafat.

Karena yang dipelajari dalam ilmu logika hanyalah berupa aturan-aturan berpikir benar maka tidak otomatis seseorang yang belajar logika akan menjadi orang yang selalu benar dalam berpikir. Itu semua tergantung seperti apa dia menerapkan aturan-aturan berpikir itu, disiplin atau tidak dalam menggunakan aturan-aturan itu, sering berlatih, dan tentu saja punya tekad dalam kebenaran.
Kegunaan dari kita belajar logika adalah daya analisis kita semakin bertambah dan dimana apabila ada suatu masalah, kita dapat mengambil keputusan dengan benar. Disamping itu belajar logika juga sangat bermanfaat dalam manajemen waktu, dan juga logika merupakan dasar ilmu psikologi yang paling mendasar. Intinya dengan belajar logika kemampuan berpikir dan daya analisis kita semakin berkembang.

Pentingnya berpikir ilmiah melalui logika
• Penalaran adalah proses berpikir dalam merumuskan dan menarik suatu kesimpulan yang berupa pengetahuan. Penalaran ini sangat diperlukan dalam cabang Logika.
• Manusia adalah satu-satunya makluk yang mempunyai kemampuan untuk melakukan penalaran karena manusia adalah makluk yang berpikir, merasa, bersikap dan bertindak. Bersikap dan bertindak bersumber dari kegiatan merasakan dan berpikir.
• Insting adalah kemampuan merasakan yang dapat digunakan untuk bersikap dan bertindak, dimiliki  manusia dan binatang. Kadang-kadang binatang memiliki insting yang lebih kuat dari pada manusia, tetapi ia tidak dapat berfikir secara nalar. Binatang tidak mempunyai kemampuan untuk melakukan penalaran,  Oleh karena itu binatang tidak dapat mengalahkan manusia dan alam sekitarnya.


Implementasi logika didalam kehidupan nyata
Seseorang selalu memikirkan sesuatu menggunakan logika, saat ia akan melakukan sesuatu, ia tidak langsung melakukan, tetapi berfikir terlebih dahulu.
Pada saat kita mengerjakan soal sosiologi, kita pasti akan membaca soal dan memikirkan jawaban tersebut, mengkait-kaitkan persoalan sehingga menemukan titik terang persoalan. Jadi kita menjawab atas dasar logika.
Pada saat kita menerima penawaran salah satu produk pasti kita akan berfikir terlebih dahulu, bermanfaatkah produk tersebut untuk kita, semenguntungkan apa produk tersebut untuk kita.
Saat kita ditawari seseorang mengenai pekerjaan, pasti kita akan mempertimbangkan tawaran tersebut. Bertanya lebih lanjut tentang pekerjaan tersebut., keuntungan kita bekerja ditempat itu. Gaji yang kita peroleh, atau celah apa yang bias membuat kita lebih maju didalam pekerjaan itu.
Misal ada sebuah berita,  berita itu harus kita telaah terlebih dahulu, apakah berita tersebut benar atau tidak, masuk akal atau tidak. Dan apakah berita iyu  nyata adanya. Jadi intinya kita harus memilah-milah sebuah berita yang kita terima.





BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
Dari penjelasan-penjelasan di atas dapat kita simpulkan bahwa Kata filsafat dijabarkan dari perkataan philosophia.   Perkataan itu berasal dari bahasa Yunani yang berarti ―cinta akan kebijaksanaan (love of wisdom). Definisi (terminologi) Logika Menurut Poerwadarminta dkk (1959) berasal dari kata logos yang berarti perkataan atau sabda. Logika juga berarti hasil pertimbangan akal pikiran yang diutarakan lewat kata dan dinyatakan melalui bahasa. Logika dimulai sejak Thales (624 SM - 548 SM), filsuf Yunani pertama yang meninggalkan segala dongeng, takhayul, dan cerita-cerita isapan jempol dan berpaling kepada akal budi untuk memecahkan rahasia alam semesta. Manfaat yang paling asasi mempelajari ilmu logika adalah untuk membuat seseorang mampu membedakan antara berpikir yang benar dan oleh karenanya akan menghasilkan kesimpulan yang benar dan terhindar dari kesimpulan yang salah.
SARAN
Sebagai manusia yang dikaruniai akal pikiran , harapan kami hendaklah kita bisa senantiasa berpikir dengan logis dan bisa di pertanggungjawabkan. Tidak hanya berpikir didalam hal kecil saja melaikan hal hal yang kompleks justru harus kita pikirkan menggunakan logika juga sebagai sala satu cara penyelesaian masalah.


DAFTAR PUSTAKA
http://adesmedia.blogspot.com/2013/02/filsafat-logika-sebagai-cabang-filsafat.html
Wibawa,Sutrisna,2013,Filsafat Jawa,Yogyakarta:UNY press.
https://www.researchgate.net/publication/319968636_Filsafat_Ilmu_dan_Logika?enrichId=rgreq-0af528b245f723b73df373baf06157cc-XXX&enrichSource=Y292ZXJQYWdlOzMxOTk2ODYzNjtBUzo1NjcyNjk3NjgyODYyMDhAMTUxMjI1OTA2MDI4NA%3D%3D&el=1_x_2&_esc=publicationCoverPdf
https://books.google.co.id/books?hl=en&lr=&id=IwqeudWz7ykC&oi=fnd&pg=PA9&dq=Logika+filsafat&ots=TZ3QYRx1G6&sig=gijRxcziENd8uWFNq0KAbNl77wY&redir_esc=y#v=onepage&q=Logika%20filsafat&f=false

Tuesday, October 16, 2018

Resume Buku Filsawat Jawa, Sutrisna Wibawa

A. Hakekat Filsafat
     Driyarkara (2006:999-1001) menyatakan bagaimana dari keinginan akan mengerti, akan kebenaran, timbul ilmu-ilmu pengetahuan, dan akhirnya muncullah filsafat. Filsafat itu timbul dari setiap orang, asal saja orang itu hidup sadar dan menggunakan pikirannya. Filsafat adalah bentuk ilmu pengetahuan tertentu, bahkan bentuk pengetahun manusia yang sempurna, yang merupakan perkembangan yang terakhir dari pengetahuan luar biasa.
     Filsafat dapat dipandang dalam dua segi, filsafat sebagai ilmu pengetahuan dan filsafat dalam arti yang lebih luas, yaitu usaha mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan hidup,
menanyakan dan mempersoalkan segala sesuatu. Filsafat sebagai ilmu yang tersendiri itu tidak niscaya adanya; hal itu meminta tingkatan kebudayaan yang agak tinggi. Sebaliknya, menyangkut filsafat dalam arti yang lebih luas, dalam arti anasir-anasir filsafat dalam pikiran manusia, hal itu dapat dikatakan tentu ada, biarpun sedikit. Pada masyarakat yang tingkat kebudayaannya belum berkembang, dapat dijumpai pikiran-pikiran tentang sebab-akibat, pandangan-pandangan tentang manusia, Tuhan dan dunia, pendapat-pendapat tentang hidup tentang perbuatan-perbuatan manusia atau etika, dan lain-lain.
   

Friday, October 12, 2018

Sebait Syair Rindu

Rindu ini, datang menghampiri
Rindu ini, mulai mengetuk hati
Rindu ini, membuat ku bertanya
Dimanakah kau duhai yang ku rindukan

RahmatEkoHidayat

Monday, October 8, 2018

Hakikat Filsafat Jawa

      Kata fisafat berasal dari bahasa Yunani Philosophia yang berarti : cinta kearifan (the love of wisdom).
   Bagi filsafat Jawa tepat sekali pengamatan Romo Zoetmulder, bahwa pengetahuan (filsafat) senantiasa merupakan sarana untuk mencapai kesempurnaan. Dapatlah dirumuskan bahwa di Jawa filsafat berarti : cinta kesempurnaan (the love of perfection) dengan memakai analogi philosophia Yunani.
  Bilamana memakai bahasa Jawa sendiri, maka filsafat sendiri berarti : ngudi kesempurnaan, berusaha mencari kesempurnaan. Sebaliknya philosophia Yunani dibaca dengan bahasa Jawa berarti : ngudi kewicaksanan.

Sumber : Filsafat Jawa, Abdullah Ciptoprawiro, hal. 14.

Tuesday, October 2, 2018

Ciri-ciri Berfikir Filsafat dan Pengimplementasiannya

17205241040

      Berpikir merupakan sisi yang membedakan manusia dari yang lainnya. Salah satu bentuk pemikiran adalah filsafat. Tetapi tidak idak semua kegiatan berfikir itu termsuk berfilsafat. Berfikir filsafah memiliki ciri-ciri sebagai berikut :

a. Radikal
       Kata radikal kini telah memiliki penyelewengan dari segi makna yang sesungguhya. Seolah-oleah kata radikal ini menunjukan kepada sebuah kelompok agama yang ekstrim atau sering dikenal sebagai kelompok yang menjadi cikal bakal teroris. Perlu diketahui bahwasanya makna "radikal" yang sesungguhnya berasal dari kata Yunani yaitu radix yang berarti "akar". Berfikir secara radikal berarti berfikir sampai ke akar-akarnya atau sampai pada hakikatnya atau esensi yang difikirkan. Semisal bicara kontek keyakinan atau kepercayaan agama. maka kita diharuskan untuk menanamkan pemikiran mengakr ini. Ketika kita mengambil sumber dari akar-akarnya, tentu kita merujuk ke kitab agama tersebut. Contoh lain yaitu ketika kita mendapatkan mata pelajaran di kelas misalnya, maka cara mengimplementasikan pemikran radikal ini salah satunya dengan cara mempelajari mata pelajaran tersebut hingga sampai pada akar-akarnya.

b. Kritis
      Menurut John Chaffe,